kemarin AKU bertanya "Klo waktu bisa diputar. kamu memilih untuk tetap melewati hari dan pertemuan itu, dengan konsekuensi seperti hari ini. Atau memohon untuk menghilangkannya, tak mengenalnya dan rasa sakit yang ada"
"Waktu tak dapat diulang"
"Kalo! SEANDAINYA…!"
"Aku nggak mau berandai-andai, buang-buang waktu!"
"Iiiiiih, ditanya kok mbulet"
"Pertanyaanmu yang mbulet. Ini hidup, nyata. bukan sinetron"
"Jujur aja"
"Jujur. Jujur, aku tak akan meminta Tuhan menghilangkan hari itu. Jujur aku tak akan menjadi pengecut dan memohon kepadaNya untuk menghapus pertemuan itu. dan jujur, aku tak akan membiarkan diriku seperti hari ini"
"Lha iku bisnis opo kerja bakti?"
Itu komen salah satu temenku hari ini. Ya, dari itungan bisnis dan materi, gw rugi. Rugi kalo cuman bikin acara sesaat, satu kali, dan berhenti. Tapi seperti niat awal, NS bukan proyek iseng, jangka pendek, apalagi mainan. Gw super duper serius mikirin konsep, promo, ngembangin ide, dan yang paling berat, mencoba menganggap semua pernyataan gak mendukung dr temen2 terdekat sebagai motivasi.
****
"Loh, ente sekarang kok jadi orang rumahan?"
YES, Im!. Malah gw mikir ntar bakal berkantor di rumah, will not leave my kids. (EH, lha kok gw malah diketawain. Mimpiku dianggap humor terbaru)…..
dikasihi,
dikasihani….
menyenangkan, membahagiakan
menyebalkan, menyakitkan!
wah, lama juga ndak mampir ke sini…
padahal emang sudah diniatin untuk jarang mampir, eeeh…lha kok pengin nulis. ehmm….saat makan sesuatu, meskipun itu sesuatu yang baru, kita masih bisa mendeskripsikannya. campuran asam, manis, pahit, asin, legit, dll. meskipun jika kita tak pandai memasak.
ya,itu biasanya. tapi swear kali ini aq bener2 susah untuk menjelaskan aneka rasa yang bercampur aduk menjadi satu. undefined. bukan karena tak ada rasa dan hambar. sebaliknya, karena terlalu kuat hingga terasa menakutkan…
wow, capek….
Membuka
femina-online dan membaca salah satu cerita bersambungnya “TOPENG” sore
tadi, membuat saya teringat beberapa koleksi topeng yang sudah lama tak
pernah saya kenakan. Selain bosan dan malas harus bergonta-ganti topeng
untuk setiap momen berbeda, saya tidak lagi merasakan manfaatnya, atau
sebenarnya topeng-topeng tak pernah memberi manfaat sejak awal? kecuali
menutupi wajah asli saya?. Yach, whatever lah, yang jelas saya lupa
mulai kapan koleksi-koleksi itu tersimpan rapi dan aman dalam kotak
yang didesain khusus untuk menjaga agar topeng tak mudah rusak
sekaligus mengantisipasi orang-orang yang penasaran dan ingin melihat
topeng-topeng itu, memaksa untuk membuka kotak dan mengambilnya. Tidak,
tidak akan pernah saya izinkan!
Memang,
sekali waktu ada saja orang yang mengamati satu atau dua topeng yang
saya pakai dengan lebih cermat, lalu mencoba menirunya. Huh, memang
bisa? Dari segi bentuk, mungkin ada yang dapat membuat duplikasi
semirip aslinya. Tapi mereka, pemakai topeng duplikasi itu tak akan
pernah dapat menyamai penghayatan alami yang muncul secara otomatis
ketika saya memainkan peran sesuai bentuk topeng dengan sempurna.
Bahkan (mungkin) terlalu sempurna hingga banyak yang berkomentar topeng
bagaikan kulit kedua saya. Mendengarnya, saya tidak memprotes,
sebaliknya berterima kasih atas penghargaan dan penilaian yang
diberikan. Bagaimanapun, penilaian tersebut merupakan bentuk nyata dari
sebuah perhatian tulus.
Malam
ini, saya membuka kotak dengan kunci khusus. Disebut khusus, sebab satu
model kunci hanya diproduksi tunggal atau satu item di dunia. Sungguh
eksklusif. Bahkan saya tak dapat membuat duplikasi kunci yang sepanjang
hidup akan selalu saya bawa. Begitu juga Anda, atau siapapun yang
diberi amanah membawa kunci tersebut. Kecuali sang pencipta kunci itu
sendiri, dia berhak mencipta dan membuat kunci-kunci baru dengan master
key yang dimilikinya.
Sambil
melihat topeng-topeng di kotak yang sudah terbuka, saya termenung
sesaat, mengenang aneka peristiwa lucu, menyenangkan, dan
membahagiakan, menyedihkan, menyakitkan, dan memalukan, yang saya alami
karena memakai topeng-topeng itu. Saya spontan berdiri, berjalan ke
arah cermin dan mencoba memakai topeng yang ternyata tidak lagi pas dan
cocok dengan bentuk wajah saya sekarang, lebih tirus namun terlihat
lebih segar. Yach, dari awal seharusnya saya tidak membuka kotak dan
mencoba kembali mengenakan topeng-topeng penuh kenangan itu.
Meski harus diakui, keinginan memakai topeng dan mengenang masa lalu
memang memiliki alasan sendiri. Saya baru saja dikalahkan pemain topeng
andal, sang master, yang karena keahliannya, tak seorangpun dapat
menebak apakah senyum manis nan tulus itu muncul dari hati dan wajah
asli, atau bentuk topeng tersenyum yang menyatu dengan wajahnya. Saya
termasuk mereka yang mempercayai semua sikap ramah menyenangkan yang
ditunjukkan benar-benar tulus dan datang dari hati, bukan tuntutan
peran dari topeng yang ia kenakan.
Dan ternyata? saya benar-benar salah. Kesalahan fatal yang memalukan.
***
Malam
ini, terlintas niat untuk mengajaknya beradu peran topeng hingga
menyisakan satu pemenang. Walaupun untuk melihat hasil akhir dibutuhkan
waktu yang panjang, bertahun-tahun, bahkan mungkin hingga akhir hayat.
Saya dapat mengenakan koleksi lama, meski harus dipermak dengan khusus
dan hati-hati agar lebih nyaman dikenakan, tidak membosankan, dan tentu
saja sesuai dengan tuntutan zaman. Namun hati kecil saya bertanya, apa
yang akan saya lakukan jika menang. Bila kalah, apakah saya dapat
bersikap legowo? Lalu, apa yang harus kami lakukan jika nilai imbang ?
Atau, memang sudah seharusnya begitu, hanya imbang dan tak ada menang
dan kalah.
Ah,
saya malas memikirkannya. Malam semakin larut, mata saya sudah
berteriak ingin istirahat. Apalagi punggung saya, benar-benar
memberontak dan meronta karena tak jua mendapat jatah waktu untuksegera
direbahkan. Tanpa berpikir panjanglagi, saya tutup kembali kotak khusus
itu, meletakkannya ke sudut tersembunyi di dalam kamar sembari berjanji
dalam hati, untuk tidak akan pernah lagi membuka kotak dan menengok
topeng-topeng itu. Sebab saya mau dan tak akan pernah bermain topeng
dan meladeni tantangan para pemain topeng yang tersisa.
@ BaRNES NGALam, dedicated to : Para Pemain dan KolektoR ToPENG Anda, punya berapa topeng?
Kamis, 18 April 2008
whew!…sepanjang perjalanan karir dan tiga tahun bekerjasama dengan salah satu bank di Malang, maka kesalahan hari ini adalah yang pertama dan sangat memalukan. hiks, hiks, hiks…
emang sich, it was my fault, kerja kok ga konsen githu..
huwaaaaa…….. kalo bisa nyungsep ke bawah meja ato ngilang saat itu juga (tapi gak bisa balik?huehehehe…), pasti dah bakal akyu lakuin, Malllluuuu bangetz!!!
Padahal, akyu masuk ruangan dengan salam dan senyum manis tuh, eeh disambut komplain "Mbak, kok pemenang Xenia dari Unit *** Kawi sich? mana ada Unit Kawi. Yang bener dari Unit Sukun!".
HAH?!! Glod@#K!?!!…."Ya ampyuuuun Pak…pantes aja, kayaknya pas nulis kok ada yg gak enak, gak sreg, ternyata salah to…Duuuuh,maaf pak. Gini deh, ntar pas penyerahan hadiah dewi dateng lagi, sworryyyyy….."
"Makanya to, dateng ke acaranya jgn telat, Wong dulu-dulu ya bisa cepet. Trus kok nggak ceria en rame kayak biasanya. Ada apa to?"
"Ah, enggak. Bangun kesiangan,trus acaranya kan di Batu.Musti ke sana sendirian, mata kena angin, jadi merah trus rada flu githu," jawabku sambil tersenyum kecut.
Dengan tampang tak percaya, si bapak meneliti wajahku lalu tersenyum. "Lah, kayak aku ga tau kamu aja. Nggak biasanya seperti ini"
"Emang tuh pak, nggak biasanya kok dewi kek gini. BErarti kan luar biasa to…hebat kan…"
"Lho, lho, bocah kok ndableg. Aku iku ora muji awakmu. Ono Opo to?"
"Nah loh, pake bahasa Jawa. Mboten wonten nopo-nopo pak….iiih, jadi mbulet aja deh. Eh, liat itu, liputan acaranya disiarin di tipi, waaaah keren juga ya…"
Untung deh, perhatiannya teralih oleh tayangan tipi. Sebelum siaran berakhir, akyu buru-buru pamit. "Walah, kabur ya…takut ditanyain"
"Aduh bapak, jangan githu dunk. Mo belanja kok…monggo…Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam…feenya langsung mau dihabisin ya nduk. Bener-bener kondisi darurat ya? yo wis, kalo udah tenang cerita aja".
"Makasiiih…," kataku setengah berteriak, sesaat sebelum masuk lift.
*****
Setelah itu, aku benar-benar menyenangkan mbak-mbak ramah penunggu AKO, Logo, Nevada, Expand, Sorella, Wacoal, Graphis, bergembira ria. Yach, paling enggak, membahagiakan orang lain kan dapet pahala to… akyu juga yakin, dalam hati, mereka mendoakan yang baik-baik untukku. Amiiin *_*
Tahun 2000, saya bangkrut
dan kehilangan uang Rp 1 miliar. Pusing,
bingung, dan bertanya-tanya, kemana harus mencari pengganti uang sebanyak itu?.
Meminta bantuan orang tua atau saudara? mereka mengandalkan saya.
Jadi, memang hanya Dia lah tempat mengadu, bertanya kenapa memberi ujian
seberat ini?
Dalam perenungan itu, saya teringat Allah tak akan memberi ujian di luar batas
kemampuan hambaNya. Jika diberi rugi Rp 1 miliar, berarti Allah tahu pasti
bahwa saya memiliki kemampuan yang lebih besar dari itu.
Woww! Pikiran itu membuat saya bersemangat. Dari posisi duduk lesu, saya
langsung berdiri tegap, seperti baru saja mendapat suntikan energi berlimpah.
Kerugian Rp 1
miliar yang sebelumnya saya anggap sebagai musibah, malah saya syukuri…
Saya bersyukur atas kepercayaan yang diberikan..
dan tak akan
menyia-nyiakan kehendakNya
Saat ini, tokoh yang pernah merugi Rp 1
miliar itu baru saja melaunching perusahaan barunya. Ia tak hanya mendapatkan
pengganti uang yang hilang tapi juga meraup untung lebih besar dalam waktu singkat.
****
Rasanya, saat ini saya harus percaya bahwa janji Allah memang benar adanya…
ada bukti hidup, yang pengalaman dan kisahnya terjadi di
depan mata..
masihkah saya berani untuk ingkar?….
(nah, Tuhanku…pliz dech, dewi udah bingung, napa ditambahin lagi seh?
alur ceritanya kok jadi sinetron banget….
banyak tokoh baru yg masuk, mo dibikin sepanjang
apa?!…. )
Selasa, 1 April 2008
Ehmmmm….kalo garis takdir sesuai dengan prediksi, hari ini akan menjadi tonggak sejarah.
Sejarah awal dari serangkaian ’sejarah’ yang tak akan pernah berakhir,
kecuali sejarah hari akhir itu sendiri.
Nah Tuhan…
aku sudah memainkan peranku…
Giliran-MU menentukan alur cerita dan pemeran utama
Tetap seperti semula
Langsung berganti…
Atau harus dilakukan audisi lagi…(?)
Ada cerita mengharukan, ada juga cerita lucu menyenangkan.
Pertemuan pertama dengan Silvi, Hany, beberapa kakak tingkat, dan ustadzah, siang ini di Sengkaling sejak sembilan tahun kelulusanku, ternyata tak membuat memory mereka melupakan ‘cerita’ sedikit heboh (jangan percaya sodara-sodara, nggak ada heboh2nya kok..) yang sempat beredar di ma’had (dulu).
Yang mengingatkan, ternyata bukan Nadia, Silvi, atau Hany yang notabene adalah teman semarhalah, tapi Kakak kelas kita. Nah, loh? *tuing, tuing, tuing….*, apa cerita waktu itu memang benar-benar ada ya?.
Whew!!, Dewi Yuhana dulu memang lumayan bandel dan cerewet. Terlalu cuek, dan seenaknya sendiri. Egois dan ngerasa benar untuk peraturan yang ia buat, tapi terkadang (baca: terlalu sering) melanggar peraturan dari bidang lainnya (well, ayem suooorrii…).
Terhadap ustadz dan Ustadzah? tidak jauh berbeda…
maksudNa, kalo dimarahin yaaa nggak diem-diem amat githu. Ehmmm, paling cuma nimpalin satu-dua patah kata, he3… (Awas!! jangan meniru perilaku ini jika Anda belum terlatih!! *_*……)
Nah, dari sekian banyak ustadz & ustadzah, ada salah satu yang seringkali ‘beradu’ mulut dengan Dewi saat kelas V (atau enam yach? lupa dech….). Bukan mau membela diri sich, tapi sepertinya waktu itu Dewi emang selaluuu aja berada di posisi salah (afwan ya tadz…diomongin di sini…).
Telat masuk kelas cuma lima menit aja, udah diomelin. Izin ke kamar mandi, dikomentarin. Ngobrol ama teman pas pelajaran, dimarahin (lah, dari pada tidur?…), sampe pileknya dewi yang terus meler, juga jadi bahan untuk ngeledekin. Iiiiiih, sapa yang gak sebel?! (artinya, Dewi pun membalas omelan beliau. Eits, nggak ekstrim banget kok, cuma satu, dua kata dikalikan….).
Nah, peristiwa itu rupanya menjadi bahan cerita, yang tau sendirilah, kalo udah menyebar dari mulut ke mulut pasti ditambahin dengan bumbu-bumbu penyedap. Mending pake bumbu alami, eeeh, ini sih didominasi penyedap rasa instan yang kandungan bahannya diragukan *_* .
Siang ini, Ustdzh yang dulunya kakak kelasku spontan berkata "EH, udah ketemu sama Ustz *ada dech namanya*, dia ikut loh…*
Nah, nah…lha kok sek ingeet aja.
***
"Dewiiii….eh sini! Tadz, inget Dewi gak?," kata si Kakak kelas dari parkir tengah TR Sengkaling.
Mendengar itu, aku langsung lari mendekat dengan bersemangat sambil membawa digital camera. Maklum dech, satu misi utamaku siang ini adalah foto bersama dengan teman-teman, ustdz dan ustadzah, trus dipajang dech @ my blog (klik disini).
"Ustaaaaaadz……wah, wah….masih inget Dewi nggak?, jangan-jangan ndak ada di memory nich…," kataku bersemangat.
"NGgak bakal mungkin lupa kok Wi…" katanya.
"Yach…emang seharusnya begitu. Murid ga ngelupain guru, guru juga akan selalu ingat ama anak didiknya…," kataku menimpali. Sayangnya, keinginan untuk menambah koleksi foto sengaja tak aku lontarkan. Yach, secara…dewi tuh mengerti dan amat sangat memahami hati perempuan kok. *_*